Selamat Datang!

Salam Blog ini berisi pengalaman atau perjalanan dimana kami terlibat atau ikut serta ketika ada acara di kantor atau acara sekitar keluarga. Hanya berbagai saja, barang kali ada manfaatnya bagi pembaca. Trimakasih GBU

Cari uang di sini!

Wednesday, March 23, 2016

Asesmen Pegawai untuk Pemetaan dan Rotasi


Baru saja saya dan rekan kerja selesai mengikuti Asesmen pegawai. Asesmen meliputi tes tertulis dan Non tertulis. Test itu antara lain tentang psikotes, ada 5 bagian yang ditest dengan jumlah soal bervariasi dari terendah sekitar 40 sampai dengan tertinggi sebanyak 100 soal‎ dengan waktu tiap bagian hanya 6 menit. 

Asesmen yang diselenggarakan Ditjen Bimas Katolik Kemenag RI dengan bekerjasama dengan Tosora Consulting Group yang biasa menangani asessmen berlangsung dari tanggal 21 s.d.23 Maret 
‎ melalui beberapa tahap guna mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu pemetaan kualitas pegawai dan sebagai bahan pertimbangan dalam promosi, dan mutasi.

Pertama, kelima bagian test itu format soalnya berupa memilih pilihan jawaban, dengan rumusan yang bermacam-macam: menghitung, mencocokkan gambar, menebak lipatan seng dalam gambar, memilih suasana hati/jiwa kita. 

Kedua, ada ujian In-Tray‎: Dimana di sana kita dimina mengidentifikasi masalah, mengatasi masalah dengan memilih prioritas, membuat rincian langkah KONKRIT mengatasi masalah hingga tahap monitoring dan evaluasi atas solusi atau program yang kita tetapkan.

Ketiga, ada ujian melalui wawancara dari asesor. Para asesor mewawancarai uraian tugas, apa yang sudah dilakukan, apa yang berhasil, apa gagal, lalu usaha untuk memantapkan pelaksanaan tugas kita ‎sesuai dengan bidang tugas jabatan struktural atau jabatan fungsional umum.

Keempat, mengikuti melaui pengisian questioner. Inti pertanyaan questioner adalah menguji integritas kita, dan tentang kepribadian kita menurut pendapat kita sendiri. 

Kelima, peserta diminta melanjutkan 8 kotak gambar, yang sudah format awal: misalnya: ada gambar titik, gambar garis, setengah bulatan dan lain-lain. Pada gambar tersebut kita diminta pula melukiskan mana gambar yang mudah, sulit, disukai dan tidak disukai.  Tambahan, kita diminta menggambar manusia secara utuh‎, lalu menggambarkan siapa orang yg digambar, sedang ngapain, lalu menyebutkan 3 kelebihan dan 3 kekurangan. 

Dan yang terakhir, ada ujian kompetensi teknis pengetahuan secara tertulis oleh Biro Kepegawaian mengenai tugas dan fungsi sehari-hari yang kita lakukan.

Refleksi:

Ada beberapa hal yang perlu direnungkan. Yang perlu kita cermati sebagai orang yang bekerja:
  1. Kita perlu memegang nilai-nilai hidup dan keyakinan kita sehingga ‎kita bekerja sesuai dengan nilai dan keyakinan itu. Misalnya, kita lebih mengutamakan kejujuran dan tanggung jawab atas hidup dan pekerjaan kita.
  2. Kita harus benar-benar menguasai tugas kita, seluk-beluknya, peta pekerjaan kita, kita sedang dimana dan akan kemana melangkah.‎ Mulai dari hal teknis sampai dengan konsep pemikiran tentang tugas kita.
  3. Kita harus mengembangkan diri kita dengan belajar terus menerus, mengikuti perkembangan jaman, kita harus inisiatif belajar, bukan menunggu.
  4. Bukan saatnya lagi bermentalitas lambat dan ngawur, tetapi bekerja cepat, tepat, kreatif, tanggung jawab, menjadi teladan, profeionalitas, inovatif dan penuh integritas
Semoga bermanfaat
TNG - 23032016

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Wednesday, December 23, 2015

Bersama Prof. Dr. KH Komarudin Hidayat

Bertemu dengan ‎KH Komarudin Hidayat ketika ditugaskan menjadi Peserta Bedah Buku "Harmoni dalam Keberagaman (Dinamika Relasi Agamai-Negara) karya K.H. Ma'uf Amin di Jakarta, (26/11/2015)

Professor Komarudin Hidyat menegaskan bahwa kita amat bersyukur atas kehidupan yang begitu toleran dan indah tinggal di NKRI.

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Monday, December 21, 2015

Bersama Ketua KWI, Mgr. Ignatius Suharyo

‎Bersama Ketua KWI, Mgr. Ignatius Suharyo, SJ,  di sela-sela acara Fasilitasi Pertemuan Pemda, Tokoh Agama, Ormas Keagamaan dan Dialog Kerukunan Generasi Muda Antar Agama di Jakarta, diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri, Senin (21/12/2015)


Ignatius Suharyo yang juga merupakan Uskup Agung Jakarta  menekankan bahwa dengan menjaga Pancasila, kita menjaga kerukunan.

Mgr. Ignatius Suharyo juga menceritakan bahwa Keuskupan Agung Jakarta sedang menggalakkan program upaya pengamalan Pancasila kepada umat Katolik. 

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Thursday, October 22, 2015

Ngobrol-ngobrol dengan Pastor Danrisman Sitanggang, O.Carm

Ngobrol-ngobrol dengan Pastor Danrisman Sitanggang, O.Carm‎, di di sela-sela acara Pembukaan Asian Apostolic Congress ke-3 di Medan, (14/10/2015). 

Saya ikut mendampingi Direktur Jenderal Bimas Katolik, Eusabius Binsasi, Direktur Urusan Agama Katolik, Bimas Katolik Kementerian Agama RI, yang diundan panitia.

Obrolan kami terkait mekanisme pemberian bantuan, proses pencairan dan perlunya pembuatan laporan pertanggungjawaban dari setiap penerima bantuan dari Pemerintah, dalam hal ini, dari Bimas Katolik Kementerian Agama RI.


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Selfi dengan Pastor Agustinus Yew

Berfoto Selfi dengan Pastor Agustinus Yew, di sela-sela acara Pembukaan Asian Apostolic Congress ke-3 di Medan, (14/10/2015). 

Saya ikut mendampingi Direktur Jenderal Bimas Katolik, Eusabius Binsasi, Direktur Urusan Agama Katolik, Bimas Katolik Kementerian Agama RI, yang diundan panitia.

Pastor Agustinus Yew adalah guru bahasa Latin, dan Pembina rohani kami saat mengecap pendidikan di Seminari Pematang Siantar.



Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Thursday, October 08, 2015

Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan di Jakarta

Sebuah kenangan mengikuti ‎Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan IV angkatan XXVII yang terdiri dari 30 Peserta di Balai Diklat Keagamaan Rawakuning, Cakung, Jakarta dari 3 Agustus s.d. EF November 2015. Diklat pola baru dengan waktu 97 hari. Ada On dan Off Campus. Semoga saya dapat menyelesaikannya dengan baik dan lulus. Amin

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Wednesday, December 03, 2014

Sulit dan Mahalnya Data Valid

Kata pakar perencanaan, data akurat, valid dan akuntabel amat mendukung untuk perencanaan program, pengambilan keputusan dan kebijakan oleh pimpinan. Hal itu bisa diterima semua.

Itu berarti, perencanaan tanpa berbasis data tidak efektif, malahan bisa jadi pemborosan, persoalannya mengumpulkan data akurat, valid dan akuntabel membutuhkan biaya mahal.


Jika pimpinan selalu meminta data akurat, valid dan akuntabel, tetapi tidak difasilitasi, itu namanya "omdo" alias omong doang. Sudah selayaknya disediakan anggaran yang cukup, aparatur yang kompeten dan sarana memadai, agar data akurat, valid dan akuntabel dapat dihimpun, diolah dan disajikan. Semoga
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, October 08, 2014

Spiritualitas Juru Penerang

Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)

Sumber:  http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

Spiritualitas Juru Penerang

Senin, 22 September 2014 17:07 WIB
Spiritualitas Juru Penerang
[Anton Ranteallo]
Dirjen Bimas Katolik RI Eusebius Bensasi bersalaman dengan Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, disaksikan Pembimas Katolik Kemenag.
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

hSpiritualitas Juru Penerang

Senin, 22 September 2014 17:07 WIB
Spiritualitas Juru Penerang
[Anton Ranteallo]
Dirjen Bimas Katolik RI Eusebius Bensasi bersalaman dengan Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, disaksikan Pembimas Katolik Kemenag.
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

Spiritualitas Juru Penerang

Senin, 22 September 2014 17:07 WIB
Spiritualitas Juru Penerang
[Anton Ranteallo]
Dirjen Bimas Katolik RI Eusebius Bensasi bersalaman dengan Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, disaksikan Pembimas Katolik Kemenag.
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

Spiritualitas Juru Penerang

Senin, 22 September 2014 17:07 WIB
Spiritualitas Juru Penerang
[Anton Ranteallo]
Dirjen Bimas Katolik RI Eusebius Bensasi bersalaman dengan Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, disaksikan Pembimas Katolik Kemenag.
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

Spiritualitas Juru Penerang

Senin, 22 September 2014 17:07 WIB
Spiritualitas Juru Penerang
[Anton Ranteallo]
Dirjen Bimas Katolik RI Eusebius Bensasi bersalaman dengan Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, disaksikan Pembimas Katolik Kemenag.
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf
Related Posts with Thumbnails

my photos

A part of my family

A part of my family

Music


Get a playlist! Standalone player Get Ringtones