Selamat Datang!

Salam Blog ini berisi pengalaman atau perjalanan dimana kami terlibat atau ikut serta ketika ada acara di kantor atau acara sekitar keluarga. Hanya berbagai saja, barang kali ada manfaatnya bagi pembaca. Trimakasih GBU

Wednesday, December 03, 2014

Sulit dan Mahalnya Data Valid

Kata pakar perencanaan, data akurat, valid dan akuntabel amat mendukung untuk perencanaan program, pengambilan keputusan dan kebijakan oleh pimpinan. Hal itu bisa diterima semua.

Itu berarti, perencanaan tanpa berbasis data tidak efektif, malahan bisa jadi pemborosan, persoalannya mengumpulkan data akurat, valid dan akuntabel membutuhkan biaya mahal.


Jika pimpinan selalu meminta data akurat, valid dan akuntabel, tetapi tidak difasilitasi, itu namanya "omdo" alias omong doang. Sudah selayaknya disediakan anggaran yang cukup, aparatur yang kompeten dan sarana memadai, agar data akurat, valid dan akuntabel dapat dihimpun, diolah dan disajikan. Semoga
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, October 08, 2014

Spiritualitas Juru Penerang

Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)

Sumber:  http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

Spiritualitas Juru Penerang

Senin, 22 September 2014 17:07 WIB
Spiritualitas Juru Penerang
[Anton Ranteallo]
Dirjen Bimas Katolik RI Eusebius Bensasi bersalaman dengan Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, disaksikan Pembimas Katolik Kemenag.
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

hSpiritualitas Juru Penerang

Senin, 22 September 2014 17:07 WIB
Spiritualitas Juru Penerang
[Anton Ranteallo]
Dirjen Bimas Katolik RI Eusebius Bensasi bersalaman dengan Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, disaksikan Pembimas Katolik Kemenag.
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

Spiritualitas Juru Penerang

Senin, 22 September 2014 17:07 WIB
Spiritualitas Juru Penerang
[Anton Ranteallo]
Dirjen Bimas Katolik RI Eusebius Bensasi bersalaman dengan Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, disaksikan Pembimas Katolik Kemenag.
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

Spiritualitas Juru Penerang

Senin, 22 September 2014 17:07 WIB
Spiritualitas Juru Penerang
[Anton Ranteallo]
Dirjen Bimas Katolik RI Eusebius Bensasi bersalaman dengan Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, disaksikan Pembimas Katolik Kemenag.
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

Spiritualitas Juru Penerang

Senin, 22 September 2014 17:07 WIB
Spiritualitas Juru Penerang
[Anton Ranteallo]
Dirjen Bimas Katolik RI Eusebius Bensasi bersalaman dengan Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, disaksikan Pembimas Katolik Kemenag.
HIDUPKATOLIK.com - Juru Penerang (Jupen) diharapkan dapat menyemangati spiritualitas Tri Munera Christi yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat Baptisan.

Untuk kali pertama, Dirjen Bimas Katolik, Eusebius Bensasi, melakukan kunjungan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam lawatannya, ia bertatap muka dengan para Juru Penerang (Jupen) di wilayah Provinsi Gerejawi Makassar: Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Manado. Hadir juga, tokoh umat Katolik Kevikepan Sulawesi Barat, KA Makassar. Acara berlangsung di d’Maleo Hotel, Mamuju, Selasa-Jumat, 26-29/8, dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang.

Ketua panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan, acara ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan para Jupen dalam merancang materi penyuluhan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelompok penyuluhan.

Sedangkan Kabid Urais, mewakili Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Mufli BF, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa penyuluh agama adalah jari-jari Kementerian Agama. Para penyuluh agama juga menjadi informan dalam hal agama, konsultator, edukator yang advokatif bagi negara. Ia berharap agar para Jupen memiliki knowledge, skill, dan attitude dalam menanggulangi dekadensi moral.

Sementara itu, Vikep Sulawesi Barat, RD Martinus Pasomba, memaparkan materi tantangan pastoral Gereja Indonesia. “Berpastoral harus berdasarkan data situasi konkret. Dari situ muncullah rimba masalah,” katanya. Untuk mengatasinya, ia memberikan solusi dengan tiga metode pastoral, yakni menginventaris masalah, melihat tantangan dari dalam maupun luar, dan paduan keduanya. Selain itu, Jupen diharapkan juga memperhatikan tiga dimensi cara berpastoral, yakni subyek yang beriman teguh, pribadi yang punya kasih besar, dan berhati penuh harap terus-menerus.

Sedangkan Eusebius memaparkan tentang visi-misi Ditjen Bimas Katolik, yaitu 100% Katolik dan 100% warga negara. Menurutnya, pembinaan Jupen dan pertemuan tokoh agama beda-beda tipis karena sama-sama melaksanakan tugas yang sama. Ia juga menjelaskan tentang Tri Munera Christi (nabi, imam, raja) yang menjadi tugas seluruh umat karena rahmat baptisan. Oleh karena rahmat itu, umat mendapat tugas membawanya ke tengah masyarakat.

“Sebagai nabi, kita harus menceritakan tentang Yesus kepada orang lain dalam zaman yang susah-susah gampang,” tuturnya. Sebagai imam, yakni tugas pengudusan, Eusebius mengatakan dengan dibumbui canda: “Jangan sampai para guru hanya mengantar anak-anak ke surga tapi gurunya sendiri hanya sampai di depan pintu. Seperti tukang ojek yang mengatar penumpang di depan rumahnya.” Sedangkan sebagai raja, Jupen dipanggil untuk memimpin orang lain menjadi lebih baik. Menurut Eusebius, tokoh umat dan Jupen adalah pemimpin umat dalam kelompok basis gerejani yang diharapkan dapat menjadi teladan seperti yang telah didengungkan dalam SAGKI 2000. Tetapi, ia juga mengingatkan, “Di atas semuanya itu pertama-tama kita harus mampu memimpin diri sendiri, baru orang lain.”

Anton Ranteallo (Mamuju)
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/09/23/spiritualitas-juru-penerang#sthash.FzoDzdTh.dpuf

Thursday, June 26, 2014

Menjadi Agen Informasi

Para Penghubung Informasi tingkat Eselon II, Kemenag RI diundang berkumpul untuk menselaraskan pelaksanaan tugas bersama sebagai liaison offiicer di Kantor Kemenag, Jl Lapangan Banteng Barat (24/6).

Pertemuan ini diselenggarakan oleh Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat sebagai leading sectornya agar pelayanan informasi lebih cepat dan akurat kepada masyarakat.

Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemenag RI, Zubaidi, menegaskan para Penghubung Informasi adalah agen informasi baik ke dalam Kementerian, maupun dari luar . Keberadaan para penghubung informasi ini menjadikan sirkulasi informasi pelayanan publik dari Kementerian Agama tentang hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan baik ke dalam maupun ke luar kementerian menjadi lebih cepat, akurat, kredibel.

Kapus Pinmas juga mengatakan tugas ini akan berhasil baik bila ada komunikasi dan koordinasi dengan semua pihat, baik dengan pimpinan, jajaran Kemenag di daerah dan masyarakat terkait. Untuk itu, sarana komunikasi (seperti HandPhone, Blakberry Messenger, Whatsapp) kita harus online selama 24 jam.

Para penghubung informasi ini sudah ditunjuk oleh pimpinan, dan diyakini bukan orang sembarangan, tetapi orang yang berkompeten dan kredibel.
(Pormadi, salah satu penghubung informasi)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, May 10, 2014

Siap Bertanggung jawab

Hari ini, Jumat, 9 Mei 2014 pukul 05.10 WIB, saya ditelpon dari Timika oleh R, bahwa mereka dan Direktur tidak dapat kamar. Lalu, saya jawab bahwa saya sudah konfirmasi ke pihak hotel bahwa kita pasti akan menggunakan hotel untuk melaksanakan kegiatan tokoh agama dan tokoh masyarakat keuskupan Timika dan Agats-Asmat di hotel Grand Tembaga Timika.

Lalu R memberikan telpon ke petugas hotel untuk mengkonfrontasikan jawaban saya dengan pihak hotel. Pihak hotel melalui suara seorang pria, mengatakan bahwa mereka kemarin sudah berusaha menelpon saya, tapi HP saya katanya tidak aktif. Saya jawab HP saya aktif 24 jam.

Selidik punya selidik, si pria dari hotel menanyakan ulang nomor hp saya, ternyata mereka salah menginput nomor HP saya. Satu angka paling belakang salah, makanya tidak bisa dihubungi.

Waduuhhhh, saya panik dan sangat menyesal, atas kejadian ini, lalu saya tegaskan bahwa pihak hotel harus cari solusi untuk masalah ini. Si pria tersebut mengatakan akan coba bicara dulu dengan teman-temannya.

Saya tunggu sampai beberapa lama, tidak ada telpon lagi, hingga pukul 10.00 WIB juga tidak ada lagi kabar dari Pihak Hotel dan pak R. Dalam pikiran saya, berarti sudah ada solusi.

Namun, pada pukul 11.00 WIB, saya telpon pihak hotel, yang menjawab telpon, Lusi, pihak hotel sudah coba hubungi hotel-hotel lain, emuanya penuh. Kata Lusi lagi, Pak R dan rombongan yang didampingi pak Edo, sudah mencari hotel tempat lain.

Saya merasa semakin panik dan bersalah atas kejadian ini. Pasti di Timika panitia, yang diketuai R sangat cemas dan kwatir mencari solusi atas masalah ini.

Beberapa saat kemudian, saya telpon R, tidak diangkat-angkat. Kemudian saya sms Y, bendahara juga sekian lama sms saya tidak dibalas.

Sms saya ke pak Y: "Met siang p.Yansen! Jadinya di hotel mana? Padahal saya udah konfirmasi dan tambah 1 kamar lagi beberapa hari yg lalu."

Lalu beberapa jam, lalu dibalas:" Kami Ini campuran Pak Pormadi, di hotel Ada sepuluh kamar Dan diwisma keuskupan sisanya. Yang mengurus hotel Dan wisma adalah Toni Sama Sihombing. Aku Sama Hajar nginap di wisma keuskupan. Sorry baru bls krn Aku baru bgn tidur."

Lalu saya sms lagi, "Nanti kegiatan: rencana dimana? Apakah bisa sistem pembayaran LS? Tks" namun tidak dibalas lagi.

Juga saya kirim pesan BBM ke H salah satu anggota panitia, "Bro, pertemuan dilaksanakan dimana jadinya?" Juga tidak ada balasan.

Akhirnya, muncul berbagai pikiran terkait akibat dari kejadian ini: mulai dari dimarahi panita, pak direktur, pak Dirjen dan semua orang kantor, dan kemungkinan resiko paling pahit yang akan dikenakan kepada saya.

Sesungguhnya, pada 14 April saya melakukan booking hotel Grand Tembaga Hotel. Kemudian pada 2 Mei saya memastikan bahwa kami akan menggunakan hotel tersebut, bahkan saya menambah 1 kamar lagi, dari 37 kamar menjadi 28 kamar. Saya heran, kok bisa hotel melakukan pembatalan sepihak. Lalu, pihak hotel tidak memberi nomor marketing manager, semua harus melalui resepsionis, mungkin jika diberi pihak marketing, kejadian ini tidak terjadi.

Tapi dengan segala resiko atas kesalahan saya dan dalam doa aku ucapkan, "saya siap bertanggung jawab" dalam status BBM saya. Semoga semuanya bisa bersikap adil dan bijaksana.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, April 23, 2014

Memandu Kegiatan Para Penyuluh Agama Katolik

Memandu sebuah pertemuan (foto: pormadi)
Pembuatan sebuah pedoman penyusunan laporan amat penting  bagi para penyuluh, terutama dalam era globalisasi sekarang ini. Adanya laporan pelaksanaan tugas selain menunjukkan akuntabilitas dan rasa tanggung jawab kinerja , juga untuk mencapai target angka kredit dan pelaksanaan tugas yang terukur, demikian kata

Pertemuanb para Penyuluh yang berlangsung, dari 24-27 Maret 2014 di Hotel Best Western Tangerang, Banten  dibuka oleh Direktur Urusan Agama Katolik, Fransiskus Endang, SH,MM dan ditutup oleh Bapak Drs. Agustinus Tungga Gempa, MM, yang saat itu sebagai Pgs. Dirjen Bimas Katolik.

Pertemuan  diikuti sebanyak 50 orang Penyuluh dari berbagai daerah di Indonesia dan pegawai Bimas Katolik Pusat. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menyusun sebuah pedoman pembuatan laporan pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai penyuluh agama di lingkungan Kementerian Agama RI sehingga ada kesatuan pemahaman dan pelaporan kegiatan penyuluhan.

Selain pejabat dari Bimas Katolik, Panitia Pertemuan ini menghadirkan narasumber Bapak Drs. Praptono Zamzam, MA, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama yang memaparkan materi tentang Pengembangan Kompetensi Penyuluh Agama. Selain itu, hadir juga Bapak M. Fayald, MA Kepala Seksi Penyuluhan pada Direktorat Pendidikan Agama Islam, yang membawakan materi Pelaksanakanaan Penyuluhan dan praktek pembuatan pelaporan penyuluhan dalam perspektif Penyuluh Agama Islam.

Sebagai output pertemuan ini, Konsep Pedoman Pembuatan Laporan Penyuluh Agama Katolik telah dihasilkan, direncanakan akan dijadikan menjadi keputusan Direktur Jenderal Bimas Katolik untuk digunakan sebagai pedoman bagi para Penyuluh Agama Katolik.

Saturday, March 08, 2014

Doa Lingkungan Prapaskah I: Dipilih untuk Melayani

Doa Lingkungan Prapaskah I: Dipilih untuk Melayani. Trimakasih Tuhan atas kasihMu, bimbing kami untuk melayaniMu dengan lebih baik lagi. AMIN

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, January 20, 2014

Istriku dapat marga, menjadi boru Naibaho

Pada tanggal 3 Januari 2014 lalu, saya bersama istri, Liong Kwei Cun, anak saya, Gilbert Benediktus Simbolon, pulang kampung ke Desa Bukit Baru, tepatnya di Barisan Gereja. Pada kesempatan itu,orang tua berharap agar istriku, yang beretnis Tionghoa, segera beroleh marga, agar selanjutnya dapat diadatkan. 

Harapan orang tua tersebut disepakatai dan ibu saya mengundang marga Naibaho, yang merupakan marga ibuku, untuk bersedia menerima istri saya menjadi anggota keluarga Naibaho. Kemudian acara diundangkan kepada semua hula-hula, anak dan boru. Acara berlangsung pada tanggal 3 Januari 2014.Berikut beberapa cuplikan acara adat tersebut.

Pemberian daging disertai permohonan 
untuk diterima dalam keluarga marga Naibaho

Pemberian ihan naniarsik: simbol penerimaan 
menjadi anggota keluarga disertai doa dan harapan 
agar menjadi keluarga bahagia


Pemberian ulos yang disertai doa agar memperoleh 
kesejahteraan dan keluarga bahagia
Berfoto bersama dengan keluarga marga Naibaho,
setelah sah diterima menjadi anggora keluarga marga Naibaho



Menjadi salah satu anggota keluarga dari  marga Naibaho


Wednesday, December 04, 2013

Ketika di Jayapura bersama Rm Benny Susetyo

Saya bersama Rm. Benny Susetyo (narasumber) duduk santai, sambil menunggu selesai diskusi kelompok Pertemuan Lintas Komisi (Tokoh Umat) Provinsi Gerejawi Se-Papua di Travellers Sentani Hotel, Jayapura, Papua (2-5 Desember 2013).


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, November 14, 2013

Pembinaan Juru Penerang di Parapat

Berfoto dengan Pak Fidelis Waruwu, dosen Universitas Tarumanagara, Jakarta, setelah acara pembinaan Juru Penerang Agama Katolik (sintua, vorhanger, katekis, dll) Keuskupan Agung Medan di hotel Niagara, Parapat (10-13 November 2013). Pak Fidelis menyampaikan materi pendidikan karakter melalui penyuluhan dan penggunaan media dalam penyuluhan.

Para Juru Penerang amat antusias mengikuti pembinaan, dan mereka berkomitmen membangun bangsa dan Gereja melalui tugas dan fungsinya sebagai tenaga pastoral di tengah umat.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, October 07, 2013

Selamat Mencari Pemimpin yang Jujur 2014

Kejujuran diawali dari diri kita, terwujud dalam keluarga, komunitas, masyarakat, Gereja dan bangsa. Kejujuran adalah diri yang tidak munafik, diri yang tidak hanya mengkritik, tetapi diri yang mencari solusi, bukan diri yang menjadi masalah dalam kehidupan keluarga, komunitas, Gereja, dan bangsa. Selamat mencari pemimpin yang jujur 2014.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, September 18, 2013

Simbolon : Pembina Iman Anak hendaknya Profesional, Mandiri dan Percaya Diri

Pormadi Simbolon, Ketua Panitia
(Foto: sulut.kemenag.go.ig)
Pembina Iman Anak atau guru sekolah minggu Katolik adalah seseorang yang dipercayakan oleh otoritas gereja dalam mewariskan iman kepada anak-anak Katolik. Pembinaan iman anak bertujuan memperkenalkan dan menghantar anak kepada Yesus dan Yesus kepada anak. Seorang Pembina iman anak adalah juga seorang tenaga pastoral, seorang pewarta kabar gembira, dan menjadi sosok teladan bagi anak-anak. Demikain disampaikan ketua panitia Pormadi Simbolon kepada 52 orang peserta pada acara pembukaan kegiatan pembinaan Pembina iman anak Keuskupan Manado yang dilaksanakan di Hotel Travelo Manado, Senin (2/9).
Untuk mewujudkan pelaksanaan tugas dan fungsinya secara berkualitas, para Pembina iman anak katolik dituntut memiliki pengetahuan yang memadai tentang pokok-pokok ajaran dan iman Katolik (kompetensi professional), terampil mengkomunikasikan bahan pembinaan iman (kompetensi paedagogik), kemampuan menjalin relasi dengan sesama (kompetensi sosial), serta memiliki spiritualitas yang tinggi (kompetensi kepribadian)
Menurut Simbolon, kegiatan ini dimaksudkan membantu para Pembina iman anak untuk meningkatkan kemampuan dan mengembangkan profesionalitasnya melalui peningkatan kemampuan menguasai materi/bahan ajar dan wawasan umum tentang disiplin ilmu yang berkaitan dengan tugasnya, serta meningkatkan kemampuan dalam menggunakan metodologi pembelajaran dan pembinaan iman anak. “Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan semakin professional, mandiri dan percaya diri dalam menjalankan tugas dan panggilannya sebagai pembinan iman anak,” tutur Simbolon.

Lebih lanjut Simbolon menyampaikan bahwa narasumber kegiatan ini terdiri dari unsur pemerintah, akademisi/praktisi dan Gereja Katolik. Dengan materi yaitu Visi Misi Ditjen Bimas Katolik, Visi dan Misi Kanwil Kemenag Prov. Sulut, Kebijakan Teknis Direktorat Urusan Agama Katolik di bidang Pembina Bina Iman Anak, Pembinaan Kerukunan Umat Beragama melalui Peran Pembina Iman Anak, Arah pastoral gereja di bidang pembinaan iman anak di Keuskupan Manado, Spiritualitas dan keteladanan Pembina bina iman anak, Persiapan Kurikulum dan materi bina iman anak, Pembentukan karakter anak-anak, Psikologi anak dan Penggunaan metode dan sarana media dalam pembinaan bina iman anak. (hp)

Saturday, September 07, 2013

Penyusunan Model Materi Penyuluhan Kategori Anak, Remaja/ Orang Muda Katolik, Keluarga, dan Masyarakat Umum

Foto Direktur Urusan Agama Katolik, Fransiskus Endang, SH, MM, bersama tim penyusun materi penyuluhan agama Katolik di Hotel Papyrus Bogor dari 25 s.d. 28 Agustus 2013. Tema pertemuan tersebut Hasil pertemuan ini diharapkan tersusunnya model silabus dan materi penyuluhan untuk kategori Anak, Remaja/ Orang Muda Katolik, Keluarga, dan Masyarakat Umum yang dapat digunakan para penyuluh agama Katolik dalam mewujudkan masyarakat Katolik yang semakin beriman dan rukun. Romo Yohanes Driyanto menegaskan para penyuluh harus "blusukan", mengajar dan membantu umat menyelesaikan masalahnya seperti Yesus berkeliling, mengajar dan menyembuhkan orang.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kegiatan Pembinaan Pembina BIA Manado - 2 s.d. 5 September 2013

Foto bersama para peserta ketika penutupan acara pembinaan pembina bina iman anak (BIA) Keuskupan Manado pada 5 September 2013. Harapan dari pertemuan ini adalah terbinanya para peserta dalam menyiapkan materi BIA guna meningkatkan kualitas keimanan Katolik dan kualitas kerukunan umat beragama.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kualanamu International Airport - Kegiatan Pembinaan GPAK ke Siantar

Foto saat pembinaan guru dan foto Kualanamu International Airport sebagian para guru Pendidikan Agama Katolik dalam pertemuan Pembinaan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik Tingkat Dasar Regional Sumatera Utara di Pematang Siantar dari 7 s.d. 11 September 2013. Fokus pertemuan ini difokuskan pada pembinaan kompetensi pedagogis di bidang Kurikulum Pendidikan Agama Katolik versi Kurikulum 2013.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, April 02, 2013

Sikap Tenang

Hidup dengan tenang akan mendatangkan kekuatan dalam hidup. Tenang maksudnya tidak panik, kondisi pikiran dan hati bekerja normal seperti biasa.

Manfaat sikap tenang adalah sebagai berikut:
1. Memampukan kita menghadapi kegagalan secara rasional;
2. Membantu kita untuk berpikir jernih sebelum melakukan pekerjaan;
3. Membantu kita untuk merencanakan segala sesuatu yang penting dalam hidup kita.

Sikap tenang inilah yang membuat banyak orang berhasil dalam pekerjaan, relasi dengan masyarakat, relasi dengan diri sendiri, istri, keluarga dan siapa saja yang ada di sekitar kita.
Untuk itu sikap tenang merupakan salah satu sikap yang harus dibangun dan dipraktekkan dalam hidup.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, December 31, 2012

Happy New Year

Its time to look back on what we had done and achieved and look forward to our plans for the coming year. 365 days ahead, 365 new grace awaits, 365 challenges to be faced, and 365 support from me to you. May all good blessing continue to be with us, you and your family in year 2013.

HAPPY NEW YEAR 2013.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, October 29, 2012

Menjadi Kader Anti-Narkoba

Dampak bahaya penggunaan narkoba amat besar bagi perusakan generasi muda bangsa. Kalian ini adalah kader anti-narkoba untuk menyelamatkan generasi bangsa di lingkungan anda, demikian salah satu benang merah materi dr. P. Sandy Noveria, MKK dalam acara Advokasi Pencegahan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba dalam rangka implementasi INPRES 12 Tahun 2011 di Jakarta, Selasa (30/10).

Acara yang diselenggarakan BNN RI itu diikuti para peserta dari berbagai Instansi Pemerintahan baik Kementerian (seperti Kemenag, KLH, kemendagri, dll) maupun non Kementerian dalam rangka membentuk kader anti narkoba di lingkingan instansi pemerintah.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, September 24, 2012

Ketika sedang kegiatan di Yogyakarta

Pada suatu kegiatan Pertemuan Pelatihan
Penelitian Dosen Perguruan Tinggi Agama
Katolik Swasta di Yogyakarta,
15-18 September 2012.
Pertemuan Pelatihan Penelitian Dosen PTAKS di bidang pastoral, 15-18 September 2012 di Yogyakarta merupakan kegiatan yang diperuntukkan untuk para dosen. Para dosen diharapkan mampu melakukan penelitian sebagai bagian tugas pokoknya dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Semoga kegiatan ini membuahkan hasil yang berguna bagi peningkatan pelayanan pendidikan di bidang pastoral. 

Bekerja Sebaik-baiknya, Tuhan akan Memberi

Ketika dilantik menjadi pejabat struktural di kantor 
Saya baru memahami bahwa Tuhan itu akan memberi bila kita bekerja sebaik-baiknya. Kita tidak perlu mencari-cari atau meminta-minta. Yang penting bila hidup kita, selain bekerja dengan baik, dan kita ikut melibat Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup kita, maka kita akan dianugerahi rahmat sesuai kehendakNya. 
Difoto untuk keperluan Kantor
Filosofi hidupku adalah bekerja sebaik-baiknya, tidak banyak menuntut, dan melibatkan Tuhan dalam segenap hidupku. Imanku adalah percaya pada penyelenggaraan Tuhan atas hidupku.
Trimakasih Tuhan, Engkau mahabaik. Pada tahun 2012 ini saya sangat bersyukur, karena Tuhan merencanakan kehidupanku dan keluarga sesuai dengan kehendakNya. Banyak rahmat yang kami terima di tahun ini.

Pertama Tuhan menganugerahi kami seorang anak. Anak pemberian Tuhan ini sudah kami tunggu selama kurang lebih 5 tahun. Pada 20 April lalu anak kami lahir, seorang cowok atau si Ucok. Kami beri dia nama Gilbert Benediktus Simbolon. 

Kedua, kami diberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas dalam jabatan struktural negara. Dengan ini, saya dituntut untuk mengembangkan kompetensi dan profesionalitas diri dalam pengabdian saya di kantor. Semoga saya dapat mengabdikan diri bagi.keluarga,  bangsa dan Gereja.


.

my photos


A part of my family

A part of my family