Selamat Datang!

Salam Blog ini berisi pengalaman atau perjalanan dimana kami terlibat atau ikut serta ketika ada acara di kantor atau acara sekitar keluarga. Hanya berbagai saja, barang kali ada manfaatnya bagi pembaca. Trimakasih GBU

Showing posts with label katolik. Show all posts
Showing posts with label katolik. Show all posts

Wednesday, September 18, 2013

Simbolon : Pembina Iman Anak hendaknya Profesional, Mandiri dan Percaya Diri

Pormadi Simbolon, Ketua Panitia
(Foto: sulut.kemenag.go.ig)
Pembina Iman Anak atau guru sekolah minggu Katolik adalah seseorang yang dipercayakan oleh otoritas gereja dalam mewariskan iman kepada anak-anak Katolik. Pembinaan iman anak bertujuan memperkenalkan dan menghantar anak kepada Yesus dan Yesus kepada anak. Seorang Pembina iman anak adalah juga seorang tenaga pastoral, seorang pewarta kabar gembira, dan menjadi sosok teladan bagi anak-anak. Demikain disampaikan ketua panitia Pormadi Simbolon kepada 52 orang peserta pada acara pembukaan kegiatan pembinaan Pembina iman anak Keuskupan Manado yang dilaksanakan di Hotel Travelo Manado, Senin (2/9).
Untuk mewujudkan pelaksanaan tugas dan fungsinya secara berkualitas, para Pembina iman anak katolik dituntut memiliki pengetahuan yang memadai tentang pokok-pokok ajaran dan iman Katolik (kompetensi professional), terampil mengkomunikasikan bahan pembinaan iman (kompetensi paedagogik), kemampuan menjalin relasi dengan sesama (kompetensi sosial), serta memiliki spiritualitas yang tinggi (kompetensi kepribadian)
Menurut Simbolon, kegiatan ini dimaksudkan membantu para Pembina iman anak untuk meningkatkan kemampuan dan mengembangkan profesionalitasnya melalui peningkatan kemampuan menguasai materi/bahan ajar dan wawasan umum tentang disiplin ilmu yang berkaitan dengan tugasnya, serta meningkatkan kemampuan dalam menggunakan metodologi pembelajaran dan pembinaan iman anak. “Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan semakin professional, mandiri dan percaya diri dalam menjalankan tugas dan panggilannya sebagai pembinan iman anak,” tutur Simbolon.

Lebih lanjut Simbolon menyampaikan bahwa narasumber kegiatan ini terdiri dari unsur pemerintah, akademisi/praktisi dan Gereja Katolik. Dengan materi yaitu Visi Misi Ditjen Bimas Katolik, Visi dan Misi Kanwil Kemenag Prov. Sulut, Kebijakan Teknis Direktorat Urusan Agama Katolik di bidang Pembina Bina Iman Anak, Pembinaan Kerukunan Umat Beragama melalui Peran Pembina Iman Anak, Arah pastoral gereja di bidang pembinaan iman anak di Keuskupan Manado, Spiritualitas dan keteladanan Pembina bina iman anak, Persiapan Kurikulum dan materi bina iman anak, Pembentukan karakter anak-anak, Psikologi anak dan Penggunaan metode dan sarana media dalam pembinaan bina iman anak. (hp)

Sunday, February 07, 2010

Seminggu Menjelang Imlek

Hari itu Minggu, 7 Februari 2010. Saya dan istri ke rumah mertua (orang tua istriku) untuk merayakan sembayangan, yang biasa dilakukan semua orang Tionghoa 7 hari sebelum imlek. Saya bisa ikutan karena istriku berasal dari etnis Tiong hoa.


Berbagai persiapan sudah dilakukan Mama (mertuaku). Hio, abu dan wadahnya, berlembar-lembar uang kertas, aneka buah-buahan, makanan kue-kuean termasuk kue keranjang (dodol Cinta), dan aneka daging sudah siap di meja sembahyang di rumah mama. Semuanya untuk keperluan sembayangan Imlek.


Selanjutnya sembahyang dimulai. Masing-masing memegang hio sejumlah tiga buah. Tiap anggota keluarga harus melakukan sembahyang, dimulai dari yang tertua hingga yang termuda. Dimulai dari mama dan saudara yang paling tua hingga ke anak dan cucu dari mama. Hio dinyalakan, lalu dihadapan meja tempat sajian itu, kita berdoa sambil memegang dan menggoyang naik turun hio bernyala itu. Setelah itu para pria membakar uang kertas (bukan uang benaran, tetapi uang-uangan dari kertas dengan nilai besar) sebagai pemberian kegembiraan kepada para leluhur.


Indahnya Perbedaan
Saya sebagai orang Batak dan beragama Katolik, yang punyai istri dari etnis Tionghoa ikut merasakan suasana imlek alias tahun baru Cina yang ke 2561 ini. Menurut istri saya, arti sembahyang ini adalah suasana gembira dan bersyukur. Melalui sembahyang , kita bersama leluhur ikut bergembira seraya mohon doa agar di tahun baru nanti didoakan supaya mendapat rejeki dan kebahagiaan keluarga.


Saya memang belum memahami budaya mereka secara mendalam, namun perbedaan budaya ini membuat saya merasakan keindahan hidup bersama dalam keberbedaan. Saya bisa hidup bersama mereka tanpa kehilangan ke-batak-an dan kekatolikan saya.



my photos


A part of my family

A part of my family